TARI TRADISIONAL LAMPUNG

Selamat Datang

Sigeh Penguten merupakan gerak yang ditarikan oleh wanita (muli dalam bahasa lampung) untuk menyambut tamu- tamu , yang melambangkan kesantunan atau kesopanan dari mulai gerak kepala, gerak lirik mata, tangan yang tidak boleh melebar, gerak kaki juga tidak boleh melebar karna akan melanggar etika kesantunan yang memang harus dibakukan. Pada bulan mei tahun 1989,ada kesepakatan bersama dari para tetua adat dan akademisi, karena berawal dari keprihatinan penampilan tari penyambutan yang beraneka ragam pada waktu itu. Dan pada bulan Mei akhirnya diadakan apresiasi seni budaya disepakati dibentuklah tari penyambutan untuk provinsi lampung yang mewakili yang marga Saibatin dan marga Pepadun . akhirnya munculah tari Sigeh penguten dengan kostum yang telah dibakukan. Yang melambangkan keanggunan, kesopan santunan,kesetiaan, dan pesona dari muli lampung. Sigeh Penguten ada 2 jenis : 1. Pusanan Peumotonan dipakai oleh Masyarakat lampung Sungkai ,marga Bunga Mayang, Way Kanan , pubian. 2. Sigeh Penguten Bahasa Abung atau megow pak menggala, kaitannya masyarakat betung adat seni dan budaya. Dalam ragam gerak tarian Sigeh penguten dalam setiap marga dilampung itu berbeda gerak dan cara meskipun memiliki irama yang sama. Tarian Sigeh penguten itu juga merupakan penyampaian tangguh (pesan) yang akan berbeda porsi nya atau geraknya tegantung pada siapa tarian tersebut ditujukan dan untuk permasalahan apakah tarian tersebut di persembahkan dan pesan apa yang akan disampaikan. Permasalahan tersebut yang tidak dapat dipisahkan, yang pertama adat kebumian, yang kedua adat perkawinan, dan yang ketiga adat cepala (sanksi). Jadi tangguh- tangguh (pesan-pesan) mengenai masalah pusanan peumotonan atau sigheh Penguten atau adat perkawinan itu berbeda ,lalu bagaimana penyampaian kita untuk tamu dengan tamu yang memang mendapat penyambutan khusus yang kita hargai. Walaupun memiliki satu irama, tetapi akan berbeda gerakan. Sigeh Penguten merupakan gerak yang ditarikan oleh wanita (muli dalam bahasa lampung) , yang melambangkan kesantunan atau kesopanan dari mulai gerak kepala, gerak lirik mata, tangan yang tidak boleh melebar, gerak kaki juga tidak boleh melebar karna akan melanggar etika kesantunan yang memang harus dibakukan.